Yogie And The Shiny Land - Part #3

    Author: AOmagz Genre: »

    Oleh : Aul Howler


        “Kereenn!!” Yogie tak tahan diam saja.
                Gutanana mengerutkan dahinya, “Apa itu kereenn, barra?”
                Yogie tertawa. “Bisa dibilang bagus, unik, menarik, luar biasa. Yah, semacam penilaian untuk hal-hal tertentu. Tempat ini misalnya.”
                Gutanana diam saja. Sebentar ia menatap Yogie penuh binar kekaguman. Seulas senyumnya merekah, dari kulitnya yang putih bersih.
                Yogie segera mengalihkan pandangannya. Entah kenapa, wajahnya mendadak terasa panas, dan ia yakin juga bersemu merah! Celakanya, situasi saat itu tak bisa dibilang biasa-biasa saja. Ini terlalu indah, dan agak —ya ampun— romantis!
                Nama Shiny Land barangkali bukan sekedar nama asal jadi, karena tempat itu memang benar berkilauan (shiny). Rumput-rumputnya berkilauan, seakan-akan disetiap ruasanya terdapat embun yang tak pernah mengering. Pohon asing tumbuh di mana-mana, juga tak kalah berkilauan, seolah kulitnya bertabur serpihan berlian. Langitnya tampak lebih cerah, mataharinya lebih terang, dan danau di ujung sana seperti puding melon, bercahaya menghijau karena pantulan bayangan tumbuhan di sekitarnya.
                Ada sebuah tumbuhan yang mencolok di antara yang lainnya, membuat rasa ingin tahu Yogie tak bisa disembunyikan. Ia mendekati tumbuhan itu. Bila matanya tidak salah, apa yang ia lihat tumbuh bergerombol di hadapannya adalah boneka bentuk hati —Simbol ‘LOVE’— dengan warna yang berbeda-beda. Ada yang hijau dan berukuran lebih kecil, ada yang merah, lalu ada yang pink! Jemari yogie terulur, ingin mengusap salah satunya yang berwarna pink dan kelihatan begitu lembut.
                “DHOR!!”
                Letusan di ujung jarinya membuat Yogie kaget bukan main, sampai terlonjak dan terjengkang ke belakang. Dari sisa letusan boneka hati itu, puluhan boneka hati kecil dengan sayap mereka berterbangan ke segala arah.
                Gutanana tertawa keras memegangi perutnya, dan kedua Grumpie yang sejak setengah hari terakhir mengikuti mereka, kini melompat-lompat dengan ekor spiralnya, kelihatannya ikut merasakan kegembiraan, saat menyaksikan Yogie —ia mendadak merasa telah bertingkah konyol.
                “Itu adalah bunga asmara, barra. Yang merah adalah bunga jantan, dan yang pink bunga betina. Bunga jantan akan meletus bila ada seorang perempuan yang sedang atau telah jatuh cinta menyentuhnya. Begitu pula sebaliknya, untuk bunga betina barra. Bedanya, bila bunga betina yang meletus, ia akan menerbangkan biji-bijinya, barra.” Gutanana menjelaskan.
                Yogie menggaruk dagunya. Untuk kedua kalinya dalam sehari ini. Ini tempat yang sungguh aneh. Pertama, ada Grumpie, hewan aneh. Kedua, ada Gutanana, gadis aneh. Ketiga, ada prajurit aneh yang bila tertembak panah kayu cahaya akan lahir kembali dari pohon angkara. Dan sekarang ada lagi bunga asmara, yang aneh: meletus bila disentuh oleh orang yang jatuh cinta. Kemudian muka Yogie memerah lagi, lebih merah dari sebelumnya. “Kalau begitu aku… jatuh… cinta? Ah!! Enggak kok!! Siapa bilang??”
                Gutanana tersenyum. “Tak ada yang bisa menyembunyikan perasaannya saat bersentuhan dengan bunga asmara, barra!”
                Yogie menunduk malu. “Ya, aku memang menyukai seseorang di duniaku. Ciara namanya. Tapi bukan cinta.” Ujarnya. Mukanya benar-benar merah sekarang. Baginya, masalah cinta itu terlalu pribadi, tak pantas dibicarakan. “Lagipula, aku kan masih 15 tahun….”
                “DARI MANA SAJA KAU, BARRA!!”
                Seorang gadis tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Gutanana., membelakangi Yogie. Seekor lagi Grumpie, melayang di sampingnya. Grumpie ini kelihatan lebih genit dengan warna pink ke unguan.
                “Kakak… aku memetik stroberi-stroberi ini, barra.” Ujar Gutanana sambil mengangkat keranjangnya.
                “Di perbatasan Dark Kingdom, barra?” Gadis itu meninggikan suaranya.
                Gutanana mengangguk lemah. Gadis yang ternyata kakak Gutanana itu berkacak pinggang. “Kau ini bagaimana, barra!? Apa kau bisa berpikir apa yang akan terjadi bila pasukan dark Kingdom menyerangmu, barra!?”
                “Aku punya panah kayu cahaya. Dan aku membawa serta Grumpie-ku. Jadi, tadi kami tidak apa-apa. Kakak tenang saja.”
                Gadis itu lebih meninggikan lagi suaranya. “Kau menembak mereka dengan kayu cahaya, barra!?”
                Gutanana mengangguk lagi. Kali ini kakaknya mendorongnya hingga terduduk di rumput. “BERANINYA KAU, BARRA!!”
                “Hei, hentikan!” teriak Yogie, tak tahan menyaksikan Gutanana dimarahi.
                Gadis itu sepertinya sedari tadi tak menyadari keberadaan Yogie beberapa meter di belakangnya. “Siapa Kau, barra?”
                “Aku Yogie. Aku teman Gutanana. Tolong jangan salahkan dia telah menggunakan anak panah itu. Dia melakukannya demi melindungiku! Jadi, kalau kau….”
                Yogie tak sempat menyelesaikan kalimatnya saat ia mendekati gadis itu dan tersentak. Bila kekagetan bertemu Gutanana yang sangat mirip dengan Hanna sahabatnya itu, diibaratkan dengan memotong satu jarinya, maka bertemu gadis ini barangkali bisa diibaratkan dengan Yogie tak punya jari lagi karena telah terpotong semua. Kakak Gutanana ternyata sangat mirip dengan gadis angkuh yang disukainya: Ciara!
                “Ciara…?” Yogie berbisik, sambil mengamati gadis itu lebih seksama.
                Gutanana melotot, “Yogie?? Ciara, cintamu yang kita  bicarakan tadi itu... maksudmu kakakku, barra!!???”
                Belum sempat Yogie menjawab, gadis yang mirip Ciara itu mendorongnya, seperti ia mendorong Gutananatadi. Yogie terduduk di rumput, tepat di samping Gutanana.
                “Aku memang cantik dan terkenal, dan disukai semua lelaki. Tapi tak ada yang berani merendahkanku dengan memanggilku dengan nama lain. Aku Gutarara!! Barra!”
                Tiba-tiba langit di ujung danau menjadi gelap. Angin yang dingin mulai bertiup di sepanjang padang rumput yang kini mulai meredup cahayanya. Suasana mulai mencekam. Yogie terdiam. Ia yakin ini bukan pertanda baik.
                “Ini yang aku khawatirkan karena panahmu itu, barra! Dengan memecahkan tubuh prajuritnya, Raja Dark Kingdom akan mengira kita menantangnya berperang. Ayo, kita kembali ke perkampungan, barra! Kita harus cepat memberitahu ayah dan Raja Shiny Land! Barra!”
                Gutarara menarik tangan Gutanana dan yogie. Kemudian mereka berlari, bersama kepanikan yang menyesak dalam relung-relung dada mereka…
     (Bersambung)

    Leave a Reply

    Thanks for reading! Leave your responses here :)

    Tentang AOMAGZ

    AOMAGZ adalah sebuah online magazine. Tapi bukan majalah berita, majalah resep atau majalah fashion. AOMAGZ adalah majalah spesialis cerita : Cerpen, Cerbung, Flash Fiction, Serial, Dongeng, Cerita Anak dan lain-lain. Jelajahilah AOMAGZ sesuka hati kamu karena ada cerita baru setiap harinya (kecuali weekend). Enjoy!

    Readers



    Follow Us On Twitter Photobucket


    Guestbook