Orang Asing Itu, Kupanggil Ibu

    Author: AOmagz Genre: »


    Oleh : Bety asya




            Hai, perkenalkan namaku Abygail balqis putri lazuardi, namaku yang asli sepertinya hanya balqis. Nama ibuku Abygail, ayahku lazuardi. Ya aku sebenarnya tak tau namaku artinya apa. Aku hanya menerka – nerka mungkin nama Abygail diambil dari nama ibuku yang meninggal karena infeksi postpartum yang dialaminya setelah beberapa hari melahirkanku, ayahku bilang nama balqis diambil dari nama ratu saba yang menjadi istri nabi sulaiman, diceritakan putri itu sangat cantik, mungkin ayahku ingin aku menjadi anak yang cantik dan mendapatkan calon suami yang baik seperti nabi sulaiman. Nama putri lazuardi artinya anak dari bapak lazuardi, ya nama ayahku lazuardi.

           Oke sepertinya stop mengenai perkenalan namaku.

           Sudah bulan Desember yah. Sebentar lagi hari ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember tiap tahunnya. Aku ingin bercerita tentang dia, ya dia, perempuan baru yang selama hampir 12 tahun ini menjadi ibuku.

           Dia seorang bidan di rumah sakit tempat ayahku bekerja, ayahku berprofesi sebagai seorang dokter loh, ibuku juga seorang dokter. Ketika ayahku berkenalan dengannya ayahku masih menjadi dokter umum, namun sekarang sudah menjadi dokter spesialis kebidanan, nenekku bilang ayah mengambil spesialis kebidanan salah satunya karena ibuku meninggal akibat penatalaksanaan persalinan yang tidak benar sehingga mengakibatkan kematian. 

           Padahal jika berpikir positif, hal itu memang sudah dituliskan oleh Tuhan bukan? Kapan seseorang meninggal, bagaimana cara meninggalnya, tanggalnya, harinya, jam, menit bahkan detiknya. Tapi tetap saja, menurut nenek, ayahku tetap menyalahkan penolong persalinannya.

           Cerita dari nenekku, ayah bertemu dengan dia secara tidak sengaja. Dia bidan rekrutan baru di tahun 1993-an, usianya ketika itu baru 22 tahun. Orangnya tak begitu cantik tapi sangat baik. Nenekku bilang lebih cantik ibu kandungku, namun jika dari sikap dan sifatnya lebih baik dia. Dia anak pertama dari dua bersaudara, mungkin karena itu juga dia lebih terlihat bijaksana dibanding ibu kandungku yang notabene anak bontot. 

           Cerita dari nenek lagi nih, dulu ketika pertama kali ayah memperkenalkan dia pada keluarga, dan dia ikut serta dalam jamuan makan malam bersama keluarga kami nenek sudah yakin dia akan menjadi pasangan yang mampu melengkapi ayah, juga mampu menjadi ibu yang baik bagiku, nenek juga bilang aku juga menyukainya, baru pertama kali kenal dia sudah seperti lama mengenalku, mungkin karena profesi dia sebagai bidan yang membuatnya seperti itu. 

           Dari cerita yang banyak aku dengar, sebelum ayahku melamar dia dan meminta dia untuk menjadi ibuku, sudah ada seorang dokter yang juga bekerja di rumahsakit itu yang dekat dengannya juga ingin melamarnya, yang lebih penting lagi dokter muda itu masih bujang tak seperti ayahku yang sudah membawa buntut, ya aku ini tapi dia tetap memilih ayahku untuk menjadi calon suaminya.

           Hanya selang beberapa bulan dari perkenalan pertamanya dengan keluarga besarku, ayah melamar dia. Ketika pelamaran, nenek bilang semua keluarga senang karena aku dan ayahku sebentar lagi ada yang merawat. Aku ada yang menjaga selagi ayahku melanjutkan study spesialis kebidanannya yang pastinya membutuhkan waktu diluar lebih lama dan pastinya aku akan ditinggal sendirian. 

           Tepat usiaku 5 tahun ketika dia menikah dengan ayahku, tanggal pernikahan sengaja disamakan dengan tanggal ulang tahunku, aku tak tau mengapa begitu, tapi yasudahlah aku tak banyak bertanya. Pernikan ayah dan dia tak begitu meriah, hanya pesta sederhana yang diadakan di halaman rumah ibunya, temanya seperti pesta kebun, dia yang meminta begitu. 

           Ketika nenek menawarkan seperti apa konsep pernikahannya, dia hanya meminta yang sederhana, yang tak terlalu merepotkan banyak pihak, “kan yang penting pernikahan kami bahagia bu, tak perlu pesta yang meriah, yang penting tamu yang hadir mau merestui dan mendoakan kami untuk hidup bersama bu". Dia hanya menjawab seperti itu ketika nenek menawarkan beberapa konsep pesta yang bisa dipakai.

           Akhirnya hari itu tiba juga, meski samar – samar ku mengingatnya, aku masih menyimpan wajahnya ketika hari pernikahan di otakku. Dia begitu cantik, seperti bidadari yang turun dari khayangan untukku dan juga ayahku, ya meski aku belum pernah melihat bidadari sebelumnya, tapi yang ada di otakku bidadari ya seperti dia.

           Satu tahun berselang dari pernikahan ayah dan dia, aku diberi adik kecil, perempuan, dia lucu, cantik, matanya besar. Tapi sejak dia datang ke dunia ini aku mulai agak membencinya, aku mulai merasakan memiliki saingan pembagian kasih sayang. Aku yang ketika itu baru masuk SD merasa semua perhatian orang rumah sedang berpaling ke arahnya, padahal masa SD menurutku masa ketika aku membutuhkan banyak perhatian. Aku mulai bertindak seenaknya. Saat pulang sekolah aku melempar semua barang dan sepatuku sembarangan lalu aku menutup pintu kamar dengan amat keras. Dia, wanita itu yang saat itu sudah pulang hanya tersenyum dan membereskan barang – barangku yang berserakan tanpa menyuruh pembantuku untuk membereskan, aku hanya melihatnya dari balik pintu kamar yang kubuka sedikit. Aneh, pikiru. Dia tak memarahiku, bahkan dia tersenyum.

           Dia tak pernah menyuruhku untuk belajar dengan keras demi mendapatkan nilai yang bagus, dia juga tidak pernah memarahiku karena aku mendapat nilai jelek ketika ulangan, apalagi memukulku. 

           Aku ingat ketika ayah baru saja pulang dari dinasnya, mewakili rumah sakit untuk pelatihan yang diadakan oleh pemerintah. Tanpa aku memerdulikan ayahku lelah atau tidak, aku langsung mengajaknya untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli sebuah tas yang aku inginkan. Teman-temanku sudah memilikinya, dan aku juga ingin memilikinya, aku deskripsikan betapa bagusnya tas itu, “warnanya merah muda, ada gambar princess di depannya yah, aku mau itu, sekarang yuk pergi kesananya”, 

           Ayahku hanya menjawab,”ayah cape nak, besok saja yah”. 

           Tapi aku yang ketika itu tak mengerti keadaan ayah terus saja merengek dan akhirnya ayah pun memarahiku, dia tak ikut memarahiku, dia hanya saja menenangkan ayahku agar tidak memarahiku, "Aby sayang, belinya besok saja yah kalau ayah sudah istirahat, ayah lelah sekali sayang”, katanya.

           Tapi yang namanya aku, keras kepala dan mau enaknya saja malah tak memedulikannya dan langsung menutup pintu kamar dengan keras. 

           Esok harinya, ketika aku pulang sekolah, dengan terlebih dahulu melempar barang bawaanku seenaknya aku masuk kamar dan kulihat di atas tempat tidurku ada kotak, dibungkus kertas kado warna merah muda, warna kesukaanku. Kubuka, dan tara aku dapati tas yang aku inginkan dan aku ceritakan kemarin pada ayah sudah ada dihadapanku. Ada kartu ucapan juga didalamnya. Isinya kurang lebih seperti ini.
           “Buat kakak Aby sayang, jangan ngambek lagi ya sama ayah, ayah minta maaf, minggu depan kita jalan – jalan ya sama ibu juga dedek Kirana, ayah sayang sama kakak Aby” tanpa kuketahui ternyata ada sepasang mata yang memperhatikanku dari luar kamar, dan dia tersenyum.

           Aku ingat lagi, dulu ketika aku ketahuan membolos sekolah ayah juga memarahiku, dan lagi – lagi ya dia, wanita itu yang menenangkan ayah dan coba menghiburku. Dia hanya bilang,”ayah juga dulu pernah muda kan, pernah jadi anak bandel, biarkan Aby begitu yah”.

           Sebenarnya banyak  lagi hal yang ia lakukan untuk menyelamatkan hidupku dari marahnya ayahku, tapi tetap saja, aku ya aku, anak pembangkang yang tak pernah menganggap dia, apalagi ketika adikku –adik tiriku maksudnya- masuk TK untuk pertama kali, ayah dan dia mengantarnya, semua keperluannya dibeli seminggu sebelum Kiran resmi masuk TK. Aku juga ikut saat Kiran membeli alat-alatnya. Dia juga menanyakan banyak hal tentang apa yang seharusnya dia lakukan ketika dia masuk TK. Sebenarnya kadang aku pikir otak dia itu cerdas, dia baru saja akan masuk ke TK tapi rasanya otaknya berjalan tak sesuai dengan usianya. Pengetahuannya luas, mungkin efek dari ibunya yang juga pintar –kalo ini ayah yang bilang kalo perempuan itu pintar.

           Bayangkan saja, baru mau masuk TK ia menanyakan,”bagaimana nanti aku bersikap ke teman-teman dikelas ya kak? Emm nanti aku disana punya teman yang enak diajak ngobrol kaya kakak gak yah? Atau nanti kalau aku udah mulai masuk TK yang nemenin kakak dirumah siapa? Yang bantu emba –pembantu- nyiram tanaman siapa? Yang bantu nyiapin sepatu kakak kalau mau sekolah siapa? Aku kan juga pasti nyiapin keperluan aku sendiri yah, kasian ibu kalau mesti nyiapin peralatan kita berdua, belum lagi ibu pasti juga nyiapin sarapan sama bekel makanan buat ayah and bla bla bla”  aku hanya diam saja mendengarkan ocehannya. Lalu dia, ibunya,  yang memberitahu bahwa aku sedang tak enak badan jadi jangan diajak bicara terlalu lama,  Kiran lalu keluar dari kamarku menyuruhku untuk istirahat, dia juga menyelimutiku. Padahal saat itu aku sedang sehat – sehat saja, aku hanya malas menjawab semua pertanyaannya.

           Aku berbeda 6 tahun dengan Kiran -nama panggilan adik tiriku-, ketika Kiran duduk di kelas 2 SD dan itu berarti aku duduk di kelas 2 SMP, dia hamil lagi, kulihat betapa bahagianya Kiran. Aku yang merasa tidak senang dengan berita bahagia itu mengunci pintu seharian dikamar. Kiran yang berusaha mengetok-ketok pintu kamarku tiap jam makan tiba, kudengar percakapan dia dari luar kamar,”bu kak Aby belum makan dari tadi, kasihan dia sakit yah bu? Ini Kiran udah bikini kaka bi telur dadar kesukaannya, pasti dia mau makan deh”,

           Dia hanya menjawab,”mungkin kak Aby sedang banyak tugas sayang, biasanya kalau sudah banyak tugas kak Aby memang suka lupa makan”, ucapnya menenangkan Kiran.

           “Tapi bu, yang namanya orang ngerjain tugas itu butuh asupan makanan yang banyak, dari buku yang Kiran baca orang mikir itu butuh tenaga yang ekstra loh, coba Tanya ayah kalau gak percaya”, kata Kiran membela diri.

           Nah kan apa aku bilang, dia memang ta seperti anak seusianya, pikirannya panjang, buku bacaannya buku ayah. Tanpa pikir panjang langsung saja aku buka pintu dan menyuruh dia masuk. Akhirnya dia bisa bermain-main dikamarku, yang sebelumnya kutulis didepan pintu, “tak boleh masuk tanpa seizin ABY”. Kiran menanyakan sedang apa aku sebenarnya, langsung saja aku pura-pura menuju meja belajar dan membuka buku. Dia terus saja berbicara ini itu sambil menyuapiku. Aku berniat menanyakan sesuatu padanya.

           “kamu seneng yah mau punya adik?”,tanyaku

           “ya jelas senang lah kak, nanti kan rumah kita jadi ramai, gak cuma ada aku, kakak, ayah, ibu sama emba Innahh doang. Apalagi kalau adik kita nanti laki-laki, wah pasti ramai rumah ini, nanti kalau dia sudah besar bisa menjaga kita berdua juga ibu kalau ayah lagi gak dirumah kak, ini kak sambil makan ya,”, Kiran menyuapiku,”kakak seneng gak mau punya adik?”

           Hampir saja aku tersedak mendengar ucapannya, aku hanya mengangguk saja. “nah kak udah abis, aku mau keluar dulu ya bantu ibu masak buat ulang tahun ayah” seketika aku tersadar. Ya ampun aku lupa hari ini ulang tahun ayah, seketika juga aku ikut keluar bersama Kiran untuk membantu ibunya menyiapkan pesta kejutan kecil untuk ayah, tadinya Kiran menolak aku membantunya karena dia pikir aku benar-benar sedang banyak tugas dari sekolah. Tapi setelah aku meyakinkan bahwa tugasku sudah selesai dia baru mau membiarkan aku untuk membantu.

           Dia, perempuan itu memang pintar dalam beberapa bidang. Sekarang saja, dibantu mba Innahh dia sudah menyelesaikan sebuah kue tart cokelat, bertuliskan “HAPPY BIRTHDAY AYAH, WE LOVE YOU” dan menaruhnya di kulkas agar tetap dingin. Ayam kecap kesukaan ayah juga sudah jadi, telur dadar isi cornet kesukaanku juga tak lupa ia buatkan. Sebenarnya aku mengakui kalau dia memang pantas untuk ayah dan untukku, namun aku terlalu gengsi untuk mengakuinya. Tak terasa air mataku meleleh, Kiran yang melihat langsung berkomentar,”nah kan nangis, makanya jangan iris bawang merah kalau belum biasa kakak, udah sana kakak ke ruang makan aja bantuin ibu rapihin meja, biar kau yang bantuin mba Innahh”, dan aku pun hanya mengangguk, bersyukur Kiran tidak menanyakan mengapa aku menangis karena aku memang sedang mengiris bawang.

           Aku menuju ruang makan, disitu sudah tertata dengan cantik piring, sendok dan makanan lainnya. Aku baru ingat, setiap ulang tahunku sebenarnya juga dia membuat kue tart cokelat sama seperti yang dia buat sekarang ini, tapi aku tak pernah menyadarinya.

           Beralih lagi cerita tentang dia, sejak kelahiran anak keduanya rasa sayangnya padaku juga tak berubah, dia makin memperhatikanku. Terlebih ketika itu aku sudah mulai masuk SMP. Aku ingat dia yang dengan sangat sibuk mencarikan sekolah negri yang sudah bertaraf internasional untukku. Dan Alhamdulillah akupun diterima di SMP negeri 1 di kotaku. Seharusnya aku berterimakasih padanya, namun belum sekalipun aku mengucapkan rasa terimakasihku padanya.

           Kemarin, aku mendapatkan tugas dari sekolah untuk mengerjakan paper tentang system reproduksi manusia, tugas itu harus diketik, saat itu juga computer yang ada dikamarku rusak karena aku terkadang bermain internet sampai lupa waktu jadi banyak virus yang bersarang disana. Dia menawarkan aku untuk memakai laptopnya juga menawarkan untuk membantu mengerjakan tugas itu, karena memang dia sepertinya ahli di bidang itu kan. Tapi aku hanya menerima tawaran untuk memakai laptopnya. Dia memberi tahu password untuk masuk ke laptopnya.

           Setelah selesai mengerjakan tugas ada rasa penasaran untuk melihat-lihat isi dari laptopnya. Aku mulai dari melihat foto-foto. Kubuka folder satupersatu. Ada folder bertuliskan “MY HEART” dalam hati “ini perempuan apa deh bikin nama folder begini” waktu aku lihat-lihat isinya, ada 5 folder, yang pertama “FAMILY” “LAZANDA” “ABY” “KIRANA” “JARIS” . wah ada folder bertuliskan namaku, makin penasaran akhirnya kau buka folder itu, hampir semua foto disitu diambil dalam keadaan aku tak sadar bahwa aku sedang difoto. Ada yang dari samping ada yang dari belakang ada yang aku tertawa lepas ada pula yang aku sedang merengut ataupun menangis, ada juga foto ketika aku TK, SD, SMP. Dia menyimpannya dengan sangat rapih. Bahkan aku saja tak punya koleksi foto sebanyak itu. Kulihat banyak foto graduation ku. Dia ternyata sudah berperan seperti ibu kandungku sendiri, tak membedakan aku dengan Kiran ataupun Jaris, buktinya dia juga membuat satu folder berisi aku semua. Setelah melihat semua foto-foto aku beralih ke dokumen. Sebenarnya sih ada rasa enggan untuk melihat – lihat. Tapi karena rasa penasaran pada folder yang bertittle “STORY” akupun membukanya. Disitu dia menceritakan semua hal yang ia alami sejak ia dibangku kuliah. Mulai dari dia tak pernah pacaran saat kuliah, dan aku baru tahu bahwa ayahku adalah yang pertama untuknya, dan aku juga baru tahu ternyata mereka tidak pacaran, dia dikenalkan pada ayahku oleh temannya, lalu ayahku memberanikan diri untuk melamarnya meski belum mengenal begitu lama. Dia menuliskan mengapa dia memilih ayahku bukan dokter yang dikabarkan menaruh hati padanya.

           Setelah melakukan komunikasi dengan Allah dengan beristikharoh, aku yakin dia pilihan yang tepat untukku, menjadi suamiku, pendamping hidupku. Meski aku belum mengenalnya lama, namun aku merasa dia yang memang Allah takdirkan untuk menjadi imamku, menjadi suami juga menjadi ayah dari anak-anakku kelak. Aku tinggalkan dokter Randy yang sebelumnya juga mengisyaratkan ingin menjadi pendampingku. Aku lebih memilih duda dengan bidadari kecil yang dibawanya. Mungkin ini memang jalan yang Allah tunjukkan untukku. Tadi ketika aku diajak pertama kali untuk makan malam bersama keluarganya, ibunya sepertinya menyukai aku, anaknya yang masih kecil dan lucu itu juga sepertinya bisa menerimaku untuk menjadi ibunya. Semoga ini memang rencana indah yang sudah Allah gariskan untukku, semoga aku bisa menjaga amanah yang Kau berikan untuk menjadi istri yang baik juga menjadi ibu yang baik bagi Aby dan anak-anakku kelak. AMIN

           Kubaca itu, air mataku pun meleleh. Ternyata dia sangat menyayangi ayahku dan juga aku meski aku bukan anak kandungnya. Kubuka lagi beberapa word yang ada di folder itu. Disitu dia menuliskan

           Sekarang aku sedang mengandung anak pertamaku, aku takut nanti ketika anak ini lahir aku membedakan rasa sayangku padanya dan pada anak kandungku. Ya Allah, tolong jaga perasaan ini agar dapat berbuat adil dalam menyayanginya juga menyayangi calon anakku. AMIN

           Hari ini ulang tahunnya yang ke-6  juga ulang tahun pertama pernikahanku dengan mas Lazu. Hari ini juga aku resmi menjadi seorang perempuan seutuhnya, dengan perjuangan yang aku rasakan sejak kemarin sore akhirnya tadi pagi pukul 09.01 wib aku berhasil melahirkan seorang bayi cantik, dia lucu sekali, matanya besar, sudah ada lesung pipi di pipi kanannya.

           “Manis, wajahnya seperti Aby ketika ia kecil”, kata mas lazu. Sejak tahu aku hamil, aku memang berdoa semoga anak ini lahir pada tanggal yang sama dengan pernikahan aku dengan mas Lazu, juga ulang tahun Aby.

           Allah memang Maha Pemberi, Dia menjabah doaku. Lengkaplah sudah keluarga kecil kami. Seharusnya aku sudah boleh pulang, namun sepertinya mas Lazu khawatir akan keadaanku, dia tidak membolehkan aku pulang dan benar-benar memantau perkembanganku di Rumah Sakit. Mungkin mas Lazu takut aku juga terkena infeksi postpartum seperti ibunya Aby. Padahal aku sangat rindu pada Aby, aku khawatir siapa yang akan menyiapkan telur dadar untuk sarapannya, telur dadar buatan mba Innahh dia agak kurang suka, dia bilang tidak seenak buatanku, padahal dia tak tahu kalau aku yang buat, yang dia tahu kalau telur dadar yang enak itu ya mba Innahh yang buat, dan yang tidak enak itu aku yang buat, lucu memang tapi aku biarkan saja, hehe. 

           Gara-gara aku tak boleh pulang dulu, jadi aku meminta mas Lazu untuk membawakan leptop ini ke Rumah Sakit, tadinya mas Lazu tak mau, tapi setelah kubujuk akhirnya dia mau juga. 

           Baru saja aku menyusukan bayiku, kuat sekali dia menyusunya, dan sekarang dia sedang terlelap di box bayi samping tempat tidurku jadi aku bisa mengetik semua perasaanku sekarang disini. Semoga besok mas Lazu mengizinkan aku pulang, aku rindu rumah.

           Benar saja, hari ini aku sudah kembali ke istana kecil keluarga kami. Setelah aku melancarkan rayuan maut pada mas Lazu, dan kuminta pada dokter Dewi untuk meyakinkan mas Lazu bahwa aku baik-baik saja akhirnya aku boleh pulang. Aku terkadang heran pada mas Lazu, dia kan dokter spesialis kebidanan tapi rasa khawatirnya pada istrinya sendiri yang juga seorang bidan terlalu besar. Padahal ia mengerti ilmunya, hemm. Mungkin dia masih trauma karena meninggalnya ibu Aby karena infeksi postpartum. Tapi aku senang kok diperhatikan seperti itu. 

           Hari ini aku belum melihat Aby, mungkin dia belum pulang sekolah, tapi tak seperti biasanya jam segini dia belum pulang. Kucoba mendekati pintu kamarnya, kuintip dari celah pintu, dan ternyata dia sudah tertidur pulas dikasurnya. 

           Aku coba masuk ke kamarnya, meski di pintu kamarrnya ada tulisan “tidak boleh masuk tanpa seizing ABY” tetap saja aku masuk, aku rindu sudah 2 hari tak bertemu dengannya. Kututupi badannya dengan selimut, suhu AC dikamarnya terlalu dingin sehingga aku naikkan suhunya. Dia tak sedikitpun bergerak. Ku kecup dahinya sambil berkata “I LOVE YOU DEAR” beruntung dia tak bangun. Biasanya kukecup dia setiap malam sebelum aku tidur karena dia pasti sudah tidur lebih dulu, sekaligus aku memastikan dia sudah tidur atau belum juga membetulkan letak selimutnya yang biasanya sudah terjatuh karena tidurnya sangat aktif. 

           Saat makan malam aby hanya diam saja, aku khawatir dia kenapa-kenapa. Kutanyakan ,”aby kenapa? Mau tante suapin?” tapi dia hanya diam saja, jadi aku tak mau memaksanya untuk menjawab. Tante? Ya aku memang tak memaksakan dia untuk memanggilku dengan sebutan mama, ibu, buda atau sebagainya. Jadi sampai sekarang dia masih memanggilku dengan sebutan tante. Aku tak keberatan, namun aku selalu berharap suatu hari nanti dia akan memanggilku dengan sebutan ibu. Seperti anak-anakku yang lain.

           Dan air mataku pun mulai menetes deras. Aku tak menyangka ia tulis semua yang dia rasakan disini. Kubaca satu persatu ceritanya.

           Sebenarnya aku kasihan pada mas lazu yang baru saja pulang dinas, tapi aku juga kasihan juga kesal ketika ia memarahi Aby yang meminta untuk dibelikan tas princess namun inginnya hari kemarin juga. Anak kecil seperti itu kan belum mengerti apa yang dilakukan orang dewasa, tapi mas lazu tetap saja tidak mengerti. 

           Esoknya saat istirahat siang, aku pergi ke mall dekat rumah sakit untuk membeli tas yang diinginkannya, kubungkus dengan kertas kado teddybear warna merah muda kesukaannya. Semoga ia suka. Tak lupa aku taruh kartu ucapan agar seolah-olah mas lazu yang membelinya. 

           Dan yang aku harapkan pun terwujud, tadi siang ketika ia pulang sekolah dan seperti biasa ia lempar barang barang bawaannya dan langsung masuk ke kamar, kulihat dari celah pintu ia tersenyum melihat ada bingkisan yang isinya tas yang aku beli tadi siang. Bahagia rasanya hati ini melihat anakku tersenyum.

           Aku mulai khawatir pada Kiran yang terus saja menanyakan mengapa Aby bersikap seperti tak menyukainya. Anakku Kiran memang anak yang kritis, dia pasti menanyakan hal-hal yang dia rasakan dan yang ingin dia tahu. 

           Bagaimana aku menjelaskan pada Kiran. Selama ini kalau dia tanya, ”bu kenapa ya kak aby kok gitu sama Kiran, gak mau kalau Kiran ajak main” aku hanya jawab mungkin kakakmu sedang sibuk sayang. Hanya itu jawaban yang menurutku paling tepat. Setiap aku jawab itu pasti Kiran langsung tanya lagi, “kok kak aby sibuk banget ya bu” dan masih banyak lagi pertanyaan yang keluar dari bibir mungilnya.


    *****

           5 Desember 2010
           "Nikmat Allah yang manakah yang kau dustakan ?"
           Rasa syukur selalu tercurahkan padaMu yang Maha pemberi hidup. Anakku Aby semakin besar, begitu juga Kiran juga Jaris. Semoga semakin bertambahnya usia, mereka semakin mengerti untuk apa mereka diciptakan oleh-Mu. Aku ingin mendampingi mereka sampai mereka mendapatkan pendamping masing-masing yang bisa menggantikan aku untuk menjalani kehidupannya. 

           Terimakasih Allah telah memberiku bidadari dan bidadara cantik soleh juga solehah dan mengizinkan aku untuk menjadi bagian dari kehidupan mereka. Berilah kebahagiaan bagi keluarga kecil kami. Berilah keberkahan pada mas Lazu yang menjadi kepala keluarga bagi kami. 

           Sebentar lagi hari ibu, aku sudah dapat menduga pasti Kiran akan memberikan kartu ucapan yang manis juga kado yang dia buat sendiri, sementara jaris yang masih kecil hanya ikut bertepuk tangan saja ketika Kiran menyanyikan lagu ciptaannya untukku. 

           Kuharap ditahun ini ada kejutan kecil yang membuatku tak hentinya untuk berterimakasih padamu Yaa Allah.

           Ya Allah, jahat sekali aku ini. Dia sudah mencoba menjadi yang terbaik tapi aku malah tak memperdulikannya. Aku terlalu percaya akan omongan orang bahwa ibu tiri itu jahat, hanya sayang pada ayah juga anaknya saja, tapi aku percaya dia memang ditakdirkan untuk menjadi pendamping ayah juga menjadi ibu untukku Kiran, juga jaris. Pantas saja nenek dulu langsung menyetujui dia untuk menjadi pangganti ibu kandungku. 

           Aku menangis tersedu dikamar. Untung saja dia sedang ada pasien yang melahirkan jadi tak ada dirumah, dia sedang bersama ayah menolong kelahiran calon bidadari-bidadara cantik untuk keluar dari persembunyiannya di dalam rahim. 

           Kututup segera laptop yang ada dihadapanku. Aku mulai berpikir untuk memberi kejutan kecil untuknya di hari ibu tahun ini. Segera kucari Kiran dan jaris. Kiran sedang berada di kamarnya, sepertinya dia sedang membuat sesuatu. Kuketuk pintu kamarnya.

           “masuk kak”, katanya.

           Aku langsung masuk ke kamarnya. Baru kali ini aku masuk ke kamarnya, maksudnya baru benar-benar masuk, duduk dan memperhatikan apa yang ada disekeliling. Kulihat didinding ada banyak foto. Foto itu sama seperti yang aku lihat di laptop ibunya, dibawah foto tertulis tanggal, tempat dan usia Kiran ketika  foto itu diambil. Lengkap, kulihat disudut kamar diatas meja kecil juga ada foto kami sekeluarga ketika berlibur ke rumah nenek di Bogor. Semuanya lengkap, dia menulis di dinding diatas meja itu “MY LIFE, MY LOVE, MY HEART”. “Kiran, mirip sekali kamu dengan ibumu” batinku.

           “kak, ngapain? Tumben mau masuk ke kamar aku, Kiran seneng deh.” Katanya sambil jari-jarinya asik memotong-motong kertas warna-warni.

           “gak apa-apa kan kakak main kesini?” ucapku kemudian, tapi tunggu dulu, “aku bilang kakak barusan? Apa karena setelah membaca tulisan ibu tiriku aku jadi sadar bahwa aku punya adik yang lucu seperti ini?” batinku

           “ya gak apa-apa lah kak, kakak boleh kok main kapan aja ke kamar aku, anggep aja kaya kamar sendiri, tapi jangan marah ya kak kalo aku cuekin, aku lagi sibuk bikin kartu ucapan buat ibu nih”. Ucapnya polos.

           Ya Allah, seketika air mataku mulai meleleh, aku baru sadar kalau dirumah ini ada banyak kehidupan, tak hanya terpaku hanya aku, ayah juga ibu tiriku.

           Esok hari tanggal 22, aku ingin sekali memberikan sesuatu pada dia, ibu tiri yang selama ini aku panggil tante, ibu tiri yang selama ini menyayangiku tapi aku tak pernah mengerti dia menyayangiku dan bahkan tak mau mengerti. Aku ingin memberi hadiah kecil yang mungkin sangat berarti baginya.

           Kubuka dompetku, hanya ada uang sekitar 100ribu dan beberapa lembar ribuan. Kuputar otak, apa yang akan aku lakukan dengan uang itu? Kutelpon temanku Tyas, Enit, Tiara juga Tara. Aku memintanya untuk menemaniku membeli kue cokelat kecil, untung saja di toko langganan Tyas masih ada kue yang siap beli tanpa harus memesannya lebih dahulu, aku merequest pada mba-mba di toko untuk menuliskan “I love you ibu, I love you ibu, I love you ibu” from ABY. Kuharap dia senang dengan pemberianku itu.

           Segera aku pulang kerumah sebelum dia dan ayah pulang, kuajak teman-temanku untuk membantuku. Tyas menjadi cameramen, aku berniat membuat sebuah video, isinya aku mengucapkan selamat hari ibu untuknya, hanya berdurasi sekitar 30 detik, tapi kuharap dia suka.

           Aku juga menyiapkan kartu ucapan untuknya. kutulis
    Terimakasih untukmu tante yang sudah mau menjadi ibuku selama 12 tahun ini
    Terimakasih telah menjadi istri yang baik bagi ayahku
    Terimakasih telah mencoba menjadi ibu yang baik bagiku
    Terimakasih telah melahirkan adik-adik yang lucu dan pintar untukku
    Aku minta maaf bila sejak kecil aku merepotkanmu, tante
    Aku memang tak mau ada yang menggantikan posisi ibuku dikehidupanku
    Tapi sekarang aku sadar, ini kehidupan kita sekarang
    Ibuku juga pasti sudah tenang jika tahu yang menjadi penggantinya adalah perempuan cantik dan pintar sepertimu
    Aku tahu tante sangat sayang padaku, tapi aku yang tak menyadarinya
    Ternyata selama ini telur dadar yang aku bilang enak itu buatan tante kan, buka mba Innahh
    Ternyata yang membelikanku tas princess merah muda itu tante bukan ayah, pantas saja ketika aku tanya ayah terlihat bingung
    Terimakasih tante untuk semua yang kau usahakan untukku
    Satu yang mau aku tanyakan
    Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan ibu?

    Salam sayang
    ABY

           Kulipat kartu ucapan itu, kutaruh kue yang tadi aku beli di lemari es kamar sebelum kutaruh di kamar ayah dan dia siang nanti sepulang sekolah. Aku juga sudah meminta bantuan teman-temanku untuk memburning video yang aku buat kemarin. Kutulis di cover depan “ with love, from your angel” tak lupa aku juga membelikannya sebuah bros berwarna putih permata berbentuk hati.

           Aku tak sabar menunggu hari ini, semalaman aku tak dapat tidur. Hari ini aku pulang agak telat dari biasanya, di SMA ku sedang ada pemadatan pelajaran. Aku khawatir aku tiba dirumah ketika semua sudah pulang. 

           Namun yang aku khawatirkan tak terjadi, dirumah masih sepi hanya ada mba Innahh (pembantu yang sudah lama ikut keluargaku) juga Jaris yang sedang tidur pulas dikamarnya. Sementara Kiran pasti belum pulang dari sekolahnya, dia baru pulang sekitar pukul 5 sore. Lalu ayah? Setahu aku ayah hari ini izin sehari. Kulihat papan pemberitahuan  disamping kulkas. Kubaca ada tulisan dari Dia “maaf sayang, ibu ada panggilan mendadak dari rumah sakit, pasien sedang banyak, teman-teman ibu sedang ada pelatihan, jadi ibu yang menggantikan, camilan sudah ibu buat ada dikulkas, baik-baik ya dirumah” ada lagi dari ayah “ayah hari ini menemani ibu, ayah takut ibu capai hehehe sun sayang dari ayah mmmuach” . ah dasar ayahku, bilang saja mau berduaan dengan ibu.

           Tanpa pikir panjang kuambil semua kado yang akan aku berikan pada ibu tiriku itu. Kubuka kamarnya, kutaruh kartu ucapan juga CD diatas kasurnya, ternyata disana sudah ada kado dari Kiran. Kubuka kulkas dikamarnya, sudah ada cake cokelat sepertinya itu juga dari Kiran, kutaruh kueku disamping kue dari Kiran. Aku langsung keluar tanpa meninggalkan jejak dari kamar.

           Malam tiba, kulihat mobil ayahku masuk halaman depan. Kulihat jam sudah pukul 10 malam, pasti mereka lelah sekali baru pulang. Kudengar dari ruang tamu ibu tiriku menanyakan pada ayah akan langsung mandi atau tidak. Ayah bilang mau langsung mandi soalnya sudah tak sabar mau bertemu kita bertiga dikamar masing-masing. Dia lalu bilang mau menyiapkan air hangat. Kudengar pintu kamarnya dibuka. Dia langsung dengan terkejut langsung keluar lagi dan memberitahu ayah yang sedang mengambil air minum di dapur dan menyodorkan kado-kado yang ada diatas kasurnya.  

           "ada CD juga nih yah, mau nonton juga gak? Dari siapa ya?” kudengar dia menanyakan itu pada ayah. 

           “Tumben Kiran tahun ini banyak banget kasih hadiahnya” hanya itu tanggapan ayah, “ayo kita tonton aja”

            Kulihat dari celah pintu kamarku ayah menyalakan DVD player di ruang TV, lalu mereka menonton video berdurasi 30 detik yang kubuat itu. Kulihat ibu tiriku berkaca-kaca, aku tak tahu apa dia senang dengan kado yang aku berikan. Kulihat dia bergegas menuju kamarku, aku langsung secepat kilat naik ke tempat tidur dan berpura-pura tidur. Dia masuk kamar, dan seperti yang biasa dia lakukan dan aku tak mengetahuinya, mencium keningku dan mengatakan “I LOVE YOU DEAR” sambil mengusap kepalaku dia mendoakan, “semoga keberkahan selalu tercurah atasmu sayang” 

           Belum sempat dia pergi kubuka mataku dan kupeluk dia erat, meski aku tahu dia belum mandi tapi dia tak bau. Kuucapkan I love you, ibu. “aku boleh panggil tante ibu kan” dia hanya mengangguk sambil meneteskan air mata juga mengucap syukur pada Allah swt, tak lama kemudian ayahku masuk ke kamar. Kami pun berpelukan bertiga. Kiran dan jaris yang mendengar suara kami bertigapun datang menghampiri kami. Dan kamipun berpelukan.

           Ayah dan ibu lalu mandi setelah itu ayah menyiapkan pesta kecil untuk merayakan hari ibu. Kami berenam (mba Innahh juga ikutan loh) berkumpul di ruang makan, kami makan bersama-sama meski hari sudah larut. Kuberkata dalam hati, ”mengapa baru terbuka mataku ya Allah, aku sungguh berterimakasih ada dalam keluarga ini”.

           Sampai disini dulu ya ceritaku. Bagaimana ceritamu? Adakah kamu yang membaca ini punya juga cerita yang sama sepertiku? Kalau iya, sayangi juga ya ibu tirimu. Meski bukan dia yang melahirkanmu, dia orang asing yang pastinya baru datang dikehidupanmu dan memberi warna yang indah dikehidupanmu. Tak semua ibu tiri itu kejam, aku sedah menemukan ibu tiri yang seperti bidadari. Cerita ibu tiri kejam mungkin hanya ada di negri dongang saja.
     
           Oh iya, buat kamu yang masih mepunyai ibu kandung, sayangi dia yah selagi dia ada. nanti kalau ibu sudah tiada kamu akan merasakan sendiri bagaimana rasanya. ingat penyesalan itu tak pernah datang diawal :D

    2 Responses so far.

    1. Nut says:

      mengharukan.. :')

    2. mengharukan sekali...,bagus banget kisah nya.semoga menjadi keluarga yang di ridhoi oleh alloh swt.aminn

    Leave a Reply

    Thanks for reading! Leave your responses here :)

    Tentang AOMAGZ

    AOMAGZ adalah sebuah online magazine. Tapi bukan majalah berita, majalah resep atau majalah fashion. AOMAGZ adalah majalah spesialis cerita : Cerpen, Cerbung, Flash Fiction, Serial, Dongeng, Cerita Anak dan lain-lain. Jelajahilah AOMAGZ sesuka hati kamu karena ada cerita baru setiap harinya (kecuali weekend). Enjoy!

    Readers



    Follow Us On Twitter Photobucket


    Guestbook